Rabu, 23 November 2011

Perjalanan Panjang Ikal, Arai, dan Jimbron

Judul buku      : Sang pemimpi
Pengarang       : Andrea Hirata
Penerbit           : Bentang
Terbit               : Mei 2008
Tebal               : 292 halaman


Semangat dan berbuat yang terbaik pada titik di mana kita berdiri sekarang, itulah sesungguhnya sikap yang realistik untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Begitulah Andrea Hirata mengisahkan gobaran pantang menyerah tiga sahabat dalam Sang Pemimpi.
Dilatar belakangi dengan kehidupan tiga orang sahabat dari pulau terpencil di Belitong yang harus berkerja keras demi melanjutkan sekolah mereka. Mereka adalah Ikal yang merupakan tokoh utama. Arai, seorang anak yatim piatu yang dirawat oleh orang tua Ikal, dan Jimbrong yang juga merupakan anak yatim piatu yang diasuh oleh pendeta geovanny.
Tiga sahabat ini harus merantau ke Magai demi melanjutkan pendidikan tingkat SMA mereka di SMA Negeri Bukan Main yang berjarak tiga puluh kilometer jauhnya dari rumah Ikal. Menjadi kuli ngambat, itulah pekerjaan yang digeluti Ikal, Arai, dan Jimbron agar dapat tetap menerusakan sekolah mereka. Semangat dan optimis menggelegar dijiwa mereka, mereka memiliki impian dapat sekolah di Prancis, menjejakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, dan menjelajahi Eropa sampai ke Afrika.
  Semangat Ikal menurun, ia berubah menjadi pesimis hingga rangkingnya merosot jauh dari rangking 3 menjadi rangking 75. Ikal merasa bahwa impiannya takkan menjadi kenyataan hanya dengan mengandalkan tabungan receh. Namun, pada saat pembagian rapor Arai mengingatkan Ikal bahwa orang-orang seperti mereka takkan hidup tanpa bermimpi dan ayah Ikal, sosok laki-laki pendiam yang sangat ia sayangi serta hujaman Arai akhirnya membuatnya semangat dan optimis kembali.
Begitu Ikal, Arai, dan Jimbron lulus SMA. Arai dan Ikal berencana untuk merantau ke Jakarta dengan berbekal tabungan dan ijasah SMA mereka serta celengan kuda yang di berikan oleh Jimbron. Ciputat itulah tujuan mereka, namun bukannya sampai di Ciputat Arai dan Ikal sampai di kota Bogor dan mereka mendapatkan tempat kos di Babakan Fakultas tepat di belakang IPB. Selama 5 bulan mereka terluntang-lantung tanpa pekerjaan hingga akhirnya mereka bekerja sebagai tukang fotocopy di IPB. Tak beberapa lama kemudian Ikal diterima sebagai juru sortir, sedangkan Arai yang tidak diterima karna memiliki gangguan pada paru-parunya merantau ke Kalimantan dan sejak saat itu Ikal tak pernah bertemu Arai.
Ikal diterima di Universitas Indonesia dan setelah lulus ia mengikuti tes beasiswa untuk melanjutkan strata 2 di Eropa dan pada saat itu Ikal bertemu Arai kembali. Arai juga mengikuti beasiswa tersebut. Ternyata selama ini Ikal kuliah di Universitas Mulawarman, jurusan biologi, lulus cum laude. Setelah bertemu Arai dan Ikal kembali ke Belitong dan mendapati Jimbron telah memiliki satu anak. Beberapa hari kemudian Arai dan Ikal mendapatkan surat yang menyatakal mereka lulus di Universitas yang sama, Universitas de Paris, Sorbonne, Prancis.
Novel ini sangat menarik untuk dibaca, hal ini disebabkan karena penulis dengan cerdas dan apik menggambarkan keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Tidak hanya itu, novel ini memiliki cover yang menarik, kertas dan tulisan yang digunakan bagus membuat banyak orang berminat membacanya. Dalam novel ini kita juga dapat mengambil pesan-pesan moril positif yang dapat kita realisasikan dalam kehidupan kita. Namun, novel ini kurang sempurna sebab ada beberapa kalimat dalam novel ini sulit dipahami sebagai contoh “Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauanpeninggalan neneknya”  dan ada beberapa kata yang penulisannya salah seperti kata “d;iterpa”.
Novel Sang Pemimpi dengan segenap kisah perjuangan tiga orang sahabat dalam memperjuangkan pendidikan mereka ini sangat bagus apabila dibaca oleh para pelajar dan mahasiswa.



Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar